Senin, 04 Februari 2013

yaa pasrah dengan keadaan untuk berpisah dengan teman-teman baru yang selama 4th ini menemaniku menempuh pendidikan. tulisan simple sih buat yang tercipta ketika perjalan pulang ke kampung untuk terakhir kalinya :(.

"pagi yang masih merasa enggan untuk berganti hari menjadi siang. udara dingin yang seakan selalu menemani perjalanan pagi ini. kabut putih yang tak mau tertinggal selalu hadir menemani pagi ini. tidak lupa kicauan makluk kecil ciptaan sang ilahi yang tak ingin pergi yang akan setia menemani pagi ini.
lingkarang yang sempurna dan cahaya yang membiasakan biru langit. pesona pancaran cahaya yang indah. pagiku ini berharap tak ingin pergi dan tak akan pergi meninggalkan kota ini.
pagi ini berharap menemaniku dalam perjalanan pulang. keindahan pagi ini yang tak' mungkin dapat kami ciptakan. semua ini hanya engkau yang mampu menciptakan ini dan masih menemaniku perjalanan pulang".

Posted on 05.58 by NOOR KHALID FADHILLA

No comments

Minggu, 05 Agustus 2012

Salah satu suguhan khas di bulan Ramadan adalah maraknya lagu-lagu religius baik di televisi maupun radio lokal. Akan tetapi kadang, televisi maupun radio lokal hanya memutarkan lagu sama yang lama-lama bisa membuat kita bosan.

Berikut adalah daftar lagu yang mungkin bisa memberi alternatif di antara lagu-lagu religius yang ada.

 
Efek Rumah Kaca. (Kapanlagi)

Efek Rumah Kaca — Debu-Debu Beterbangan
Band yang pernah mendapat predikat “Penyelamat Musik Indonesia” oleh sebuah media musik ini menampilkan versi yang unik dari tafsiran Al-Qur’an surat Al-Ashr. Lagu mereka bercerita tentang bagaimana manusia terkadang sering lalai dalam hal-hal duniawi, sebuah hal yang akan kita sesali nantinya di hari penghitungan. Dibalut dengan musik yang cenderung gelap, lagu ini bisa membantu kita dalam merenungi tentang apa-apa yang selama ini telah kita perbuat.

SORE — Keangkuhanku
Di tahun 2005, “Centralismo” album debut dari band Sore mendapat penghargaan “Five Asian Albums Worth Buying” dari majalah Time Asia. “Keangkuhanku” adalah lagu ke-7 dari album tersebut. Di lagu ini, Sore menyanyikan bagaimana manusia sering tertelan angkuh untuk kemudian menjadi lupa akan apa-apa yang jadi karunia Tuhan. Diiringi musik bernuansa ’60-an , pada bagian reff Sore menyanyikan permohonan maaf pada Tuhan atas semua keangkuhan juga dosa yang telah dilakukan.

Tigapagi — Menari
Tigapagi adalah tiga pria Bandung memainkan gitar akustik dengan nuansa Sunda kental dengan penulisan lirik yang puitis dan dalam. Pada tahun 2009, mereka termasuk salah satu dari finalis kompetisi musisi independen yang kemudian mendapat jatah satu lagu dalam kompilasi musisi independen tersebut. Di lagu ini, mereka bercerita tentang semunya nikmat dunia yang terkadang membuat lupa akan nikmat surgawi yang abadi. Lirik “hanya mahluk bodoh yang berfikir nikmat dunia, melebihi nikmat surgawi” seperti teman merenung yang pas di jam tiga pagi hari.

The Morning After — #1
The Morning After adalah salah satu band asal Kota Malang yang cukup sukses di skala nasional. Setelah di tahun 2008 mereka menjadi salah satu finalis kompetisi musik independen, di tahun yang sama, mereka mendapat kontrak rekaman album penuh. Lagu #1 (dibaca nomor satu) adalah salah satu lagu dari album penuh “Another Day Like Today” tersebut. Lagu ini mengajak kita untuk terus bersyukur kepada Tuhan atas apa-apa yang telah dikaruniakan kepada kita manusia. Untuk tetap bersyukur walau apa yang kita hadapi, selalu tak ada salahnya untuk bersyukur kepada-Nya; Tuhan. Sang nomer satu.




Posted on 13.58 by NOOR KHALID FADHILLA

No comments